Dalam khazanah keilmuan dan spiritualitas Islam, terdapat ungkapan-ungkapan pendek namun padat makna yang menjadi fondasi penting dalam interaksi seorang hamba dengan Tuhannya. Salah satu frasa yang sering muncul dalam konteks doa, pujian, dan pengakuan iman adalah li annakallah. Meskipun seringkali terlewatkan dalam terjemahan harfiah, makna di balik frasa ini mencerminkan inti dari tawakal, penyerahan diri, dan pengakuan total atas kekuasaan mutlak Allah SWT.
Secara etimologis, frasa li annakallah merupakan bagian dari kalimat yang lebih panjang dalam bahasa Arab, yang secara umum dapat diterjemahkan sebagai "sesungguhnya milik-Mu (adalah kekuasaan/segala sesuatu)" atau "sesungguhnya Engkaulah (Pemilik segala sesuatu)". Inti dari ungkapan ini adalah penegasan bahwa segala sesuatu—rezeki, kekuasaan, kesehatan, kesulitan, dan kemudahan—berada sepenuhnya di bawah kehendak dan kepemilikan Allah.
Ini bukan sekadar pengakuan intelektual, melainkan sebuah pernyataan spiritual yang mengubah cara pandang seorang Muslim terhadap kehidupan duniawi. Ketika seseorang mengucapkan atau meresapi li annakallah, ia sedang menegaskan bahwa ia tidak memiliki kendali penuh atas hasil akhir dari upayanya. Kontrol tertinggi ada pada Sang Pencipta.
Frasa ini menjadi pilar utama dalam ajaran tawakal. Tawakal dalam Islam bukanlah pasrah tanpa usaha, melainkan usaha maksimal yang diikuti dengan penyerahan total hasil akhir kepada Allah. Memahami li annakallah berarti menyadari bahwa usaha kita adalah kewajiban, namun hasilnya adalah hak prerogatif Allah.
Dalam situasi sulit, ketika manusia dihadapkan pada ketidakpastian atau bencana yang melampaui daya upaya akal manusia, pengakuan ini memberikan ketenangan luar biasa. Jika seorang mukmin benar-benar menginternalisasi bahwa segala sesuatu kembali kepada Allah, maka ketakutan akan kegagalan atau kehilangan akan berkurang drastis. Ia percaya bahwa apa pun yang terjadi adalah bagian dari ketetapan ilahi yang terbaik baginya, meskipun ia belum memahaminya saat itu.
Penerapan konsep li annakallah tidak terbatas pada saat-saat ibadah formal saja. Ia meresap ke dalam setiap aspek kehidupan:
Penting untuk membedakan konsep tawakal yang berlandaskan li annakallah dengan fatalisme atau fatalisme buta. Fatalisme adalah keyakinan bahwa segala sesuatu telah ditentukan dan oleh karena itu tidak perlu berupaya. Islam mengajarkan aksioma yang seimbang: "Ikat untamu, lalu bertawakallah." Usaha (mengikat unta) adalah perintah agama, dan penyerahan hasil (tawakal) adalah pengakuan bahwa kepemilikan akhir adalah milik Allah.
Dengan demikian, ketika kita merenungkan makna mendalam dari pengakuan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, hati kita terlepas dari belenggu ketergantungan pada ciptaan. Fokus kita beralih dari upaya mengendalikan dunia menjadi upaya mendekatkan diri kepada Pemilik Dunia. Pengakuan li annakallah adalah kunci menuju ketenangan batin yang sejati di tengah gejolak dunia yang fana.